Monday, December 21, 2009

Pada Sebuah Pantai: Interlude

Puisi Goenawan Mohammad
yang pernah kubacakan didepanmu



Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu,
`masih tersisa harum lehermu';dan kau tak menyahutku.
Di pantai, tepi memang tinggal terumbu, hijau (mungkin kelabu).
Angin amis.
Dan di laut susut itu, aku tahu, tak ada lagi jejakmu.
Berarti pagi telah mengantar kau kembali, pulang dari sebuah dongeng tentang
jin yang memperkosa putri yang semalam mungkin kubayangkan untukmu,
tanpa tercatat, meskipun pada pasir gelap.
Bukankah matahari telah bersalin dan melahirkan kenyataan yang agak lain?
Dan sebuah jadwal lain?
Dan sebuah ranjang dan ruang rutin, yang setia, seperti sebuah gambar keluarga
(di mana kita, berdua, tak pernah ada)
Tidak aneh.
Tidak ada janji pada pantai yang kini tawar tanpa ombak
(atau cinta yang bengal).
Aku pun ingin berkemas untuk kenyataan-kenyataan,berberes dalam sebuah garis,
dan berkata: `Mungkin tak ada dosa, tapi ada yang percuma saja.'
Tapi semua ini terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil.
Dan itulah soalnya.
Di mana ada keluh ketika dari pohon itu mumbang jatuh seperti nyiur jatuh
dan ketika kini tinggal panas & pasir yang bersetubuh.
Di mana perasaan-perasaan memilih artinya sendiri,
di mana mengentara bekas dalam hati dan kalimat-kalimat biasa berlarat-larat
(setelah semacam affair singkat), dan kita
menelan ludah sembari berkata: "Wah, apa daya.'
Barangkali kita memang tak teramat berbakat untuk menertibkan diri dan hal ihwal dalam soal seperti ini.
Lagi pula dalam sebuah sajak yang sentimentil hanya ada satu dalil: biarkan akal yang angker itu mencibir!
Meskipun alam makin praktis dan orang-orang telah
memberi tanda DILARANG NANGIS.
Meskipun pada suatu waktu, kau tak akan lagi datang padaku.
Kita memang bersandar pada apa yang mungkin kekal, mungkin pula tak kekal.
Kita memang bersandar pada mungkin.
Kita bersandar pada angin.
Dan tak pernah bertanya: untuk apa?
Tidak semua, memang, bisa ditanya untuk-apa.
Barangkali saja kita masih mencoba memberi harga pada sesuatu yang sia-sia.
Sebab kersik pada karang, lumut pada lokan,mungkin akan tetap juga di sana -apapun maknanya -

~1973~

Saturday, April 25, 2009 at 10:39pm

No comments: