: Siti Nurbaya
Tidakkah semua ini begitu memedihkan layaknya hujan diawal bulan?
Kala kau dan aku menarikan tarian tentang musim yang tak pernah kita temui
lalu kita membuka payung di Bukit Siti Nurbaya, mencoba menggurui nasib
tapi siapa itu yang menangis, sedang hujan belum berhenti mengiris?
Di lain senja, engkau dan ekor layang-layang di atap rumah masih membiru kenangan
sedang aku berujar tentang ombak yang menggigil di gerigi pantai
kau tanya aku tentang pintu, sungai, dan teka-teki yang belum usai kujawab
namun senja semakin murung
malam itu, kau dan payungmu kuncup
aku masih disini, berdamai dengan jantung yang seakan berhenti berdegup.
Malam sentimentil
Tarok, Bukittinggi
1 Mei 2009
No comments:
Post a Comment