Akhirnya petualanganku menjelajah malam di kota Padang selesai sudah. Meski hanya berlangsung selama tiga malam, namun ada banyak hal baru yang kutemui. Hal baru yang membuat aku harus mempercayai bahwa ternyata kehidupan ini memiliki banyak ruang lain selain apa yang kutempati selama ini.
Malam Pertama
Awalnya hanya sekedar sebuah ajakan untuk keluar rumah dari seorang teman. Kebetulan beberapa malam ini cuaca bersahabat, aku memutuskan untuk ikut. Malam itu kami menuju kawasan UK, sebuah kawasan yang dinilai agak elit untuk ukuran mahasiswa (tidak seperti Labor dan Patenggangan yang rata-rata ditinggali mahasiswa dengan taraf hidup menengah ke bawah, seperti aku). Yah, setidaknya kampus yang ada di area tersebut memang terkenal dengan ke-elitannya. Malam Pertama
Kami berhenti di sebuah rumah. Entah rumah siapa, akupun tidak begitu jelas, karena malam itu aku berniat cuma untuk ikut. No question! Rumah itu terlihat megah dengan dua lantai dan desain gaya eropa. Nyaris, tidak terdengar apa-apa dari luar, namun begitu masuk ke dalam baru terdengar suara-suara heboh. Cukup banyak manusia disana. Perempuan dan laki-laki berbaur di ruang tamu sementara di ruang tengah ada sekelompok lain yang tengah menggeleng-gelengkan kepala mengikuti musik. Seperti dejavu, aku seakan pernah melihat suasana seperti ini dalam sinetron-sinetron sampah Indonesia sekarang. Tidak ada orang yang aku kenal sama sekali, semuanya baru, sedangkan temanku mulai berbaur dengan sekelompok perempuan dan melakukan cipika-cipiki. Haha, aku juga mau, sayang tidak ada yang kenal. Alhasil, aku hanya duduk disebuah sofa dengan gaya sedikit jaim dan menikmati minuman kaleng yang tersedia.
Hampir jam 12 malam, atmosfer mulai sedikit berubah. Irama musik bertukar dengan beat yang lebih cepat. Aku menolak dengan halus ketika ditawari untuk ikut bergabung di ruang tengah. Astaga, baru aku menyadari ternyata perempuan-perempuan tadi juga menghisap rokok. Itu belum seberapa, tak lama kemudian ada dua orang laki-laki masuk rumah membawa sebuah kotak yang ternyata berisikan minuman-minuman keras bermerk. Dan suara sorak pun terdengar ketika minuman-minuman itu mulai dibagikan. Bahkan, perempuan-perempuan tadi ikut berebut dengan gelas-gelas berisi es batu ditangan. Oh My... Aku sekarang ada dimana? Di Padangkah? sebuah kota yang dinilai masih kuat memegang adat istiadat?
Semakin malam, rumah tersebut semakin berkabut oleh asap rokok yang keluar dari mulut-mulut kaum Hawa dan Adam yang ada disana. Aku semakin shock, rumah ini tak ubah seperti sebuah diskotik khusus untuk kalangan mahasiswa. Di sudut yang agak temaram beberapa pasang anak manusia berpelukan, tak peduli keadaan sekitar. Huff, sekan-akan sekarang aku berada di dalam novel Moammar Emka, mengamati tingkah laku manusia dalam bentuk yang baru sekarang kulihat dengan mata kepala sendiri. Aku sempat kesal, temanku tadi tak kunjung kelihatan. Sudah kucari kemana-mana belum jua bertemu batang hidungnya.
Setelah hampir jam setengah tiga, aku tidak tahan untuk pergi ke kamar mandi. Setelah bertanya dengan laki-laki yang duduk di sebelahku akhirnya aku beranjak ke arah tangga naik ke lantai dua, ternyata kamar mandi terletak di bwah tangga tersebut. Belum sempat aku memasuki kamar mandi, aku melihat muka menyebalkan yang aku tunggu-tunggu turun dari lantai dua. Langsung kuseret dan ku bombardir dengan makian (sigh, akhirnya aku hilang kesabaran juga). Simple aku bilang aku mau pulang, soalnya besok aku ada kegiatan dikampus (mencatat kode seksi mata kuliah, hehe). Dia setuju.
Dalam mobil aku sempatkan bertanya, pesta jenis apa yang barusan aku lihat. Katanya itu cuma acara kecil-kecilan, ada temannya yang ulang tahun. Bah, dia pikir aku percaya. Lalu dengan nada agak marah aku bertanya lagi, "ngapain kamu lama-lama di lantai dua?". Santai sekali dia menjawab, "biasalah, udah lama ga cuci baut". Bah!!!! (dan kerongkonganku kering seketika)
No comments:
Post a Comment