:Ihsan Yauma
Sepagi Idul Adha, kita mengetam kalimat-kalimat,
mendengar ketuk-ketuk papan tidur,
membaui masakan ibu,
membakar tembakau di kamar mandi (ah, kau selalu begitu),
sebelum akhirnya menuju kereta (sebelahnya kita menyimpan sepatu)
saat senja
kau mendayung sepeda tua,
aku duduk dibelakangnya
berencana menuju banda bakali
(yang akhirnya tak pernah kita temui),
menyambangi gadis tetangga
dan mendatangi surau mungil yang berjarak hanya lima kaki
"tidakkah kau rasa kini
betapa pahit sereguk ampas kopi?"
Az-zahra, Juni 2009
No comments:
Post a Comment